Sunday, November 20, 2016

Terpilihnya Trump Sebagai Presiden Amerika

Keterangan Pers

﴿وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ أَكَابِرَ مُجْرِمِيْهَا لِيَمْكُرُواْ فِيْهَا وَمَا يَمْكُرُوْنَ إِلاَّ بِأَنفُسِهِمْ وَمَا يَشْعُرُوْنَ﴾
“Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya.” (TQS al-An’am [6]: 123)

Terpilihnya Trump Sebagai Presiden Amerika

Seluruh dunia gaduh dengan berita terpilihnya Trump sebagai presiden Amerika. Terpilihnya Trump menjadi pukulan keras terhadap pasar finansial di Eropa, Asia dan Amerika. Merkel kanselir Jerman mengungkapkan kewaspadaannya atas terpilihnya Trump. Ia mensyaratkan agar Trump menghormati doktrin-doktrin dan nilai-nilai demokrasi bagi kelangsungan kerjasama dengan Jerman. Presiden Prancis mewaspadai pernyataan-pernyataan Trump yang menyalahi nilai-nilai bersama. Ia menyeru para menteri luar negeri Eropa untuk menggelar pertemuan guna membahas dampak-dampak terpilihnya Trump.
Adapun apa arti terpilihnya Trump untuk kita kaum Muslim? Maka tidak akan ada sesuatu yang baru dalam tungku permusuhan gembong kekafiran, Amerika, terhadap Islam dan kaum Muslim. Apakah Obama yang demokrat merupakan teman untuk kaum Muslim?! Atau pendahulunya yang republikan, George Bush Jr. merupakan teman untuk kaum Muslim?! Apakah politik Amerika sepanjang para penguasa yang silih berganti di Gedung Putih, tidaklah mengusung untuk Islam dan kaum Muslim, kecuali permusuhan yang berakar dan menancap dalam serta tipu daya terus menerus untuk menghegemoni negeri-negeri kita dan merampok kekayaan kita dan potensi kita serta mendukung para penguasa diktator, dan mengerahkan tenaga untuk menghalangi kembalinya persatuan kaum Muslim di bawah daulah al-Khilafah ar-Rasyidah kedua yang berjalan di atas manhaj kenabian?
George Bush telah mendeklarasikan perang salib terhadap kaum Muslim ketika melancarkan serangannya terhadap warga kita di Afganistan. Perangnya di Irak telah menyingkap tekadnya untuk menghancurkan Irak. Kemudian datang Obama, maka dia berusaha mempedaya kaum Muslim dengan pidatonya yang bombastik di Ankara dan Kairo (2009) dan Jakarta (2010) sebelum topengnya hancur dengan dukungan mutlaknya kepada jagal Damaskus dalam upaya membungkam revolusi Syam. Meski dia telah mengkritik George Bush yang menggunakan drone, ketika Obama ada di barisan oposisi, namun setelah dia menjadi penguasa, dia menaikkan tensi serangan pesawat drone ini menyebarkan ketakutan, pembunuhan dan penghancuran di berbagai penjuru negeri kaum Musim, mulai dari Afganistan dan Pakistan ke Irak, Yaman, Somalia, Suriah …
Benar, kita berbicara dari sudut pandang akidah islamiyah. Maka kita tidak melihat pada para penguasa Amerika kecuali permusuhan berurat berakar terhadap Islam dan kaum Muslim, tanpa memandang perubahan dangkal pada wajah para penguasa Gedung Putih. Pada hakikatnya pandangan yang mendalam, bahwa Amerika terus berjalan dalam politiknya yang ditargetkan untuk memerangi Islam dan kaum Muslim. Dan tanpa memandang betapa powerfullnya AS yang tampak, maka itu tidak akan berlanjut terus. Kebatilan pasti lenyap. Dan hari-hari itu dipergilirkan diantara manusia. Selama kaum Muslim berpegang teguh dengan keimanan mereka kepada Rabb mereka dan mengedepankan ridha Allah atas dunia yang fana, mereka menolong Allah dengan berjuang untuk menerapkan syariah-Nya, maka niscaya mereka mampu membebaskan umat manusia dari bencana Amerika dan mengeluarkan umat manusia dari kegelapan kekufuran ke cahaya Islam, dari kezaliman peradaban kepitalisme menuju keadilan Islam, dan dari kesempitan dunia menuju keluasan dunia dan akhirat. Dan ini adalah janji Allah dan janji-Nya adalah benar. Dan mudah-mudahan hal itu terealisir dalam waktu dekat.

﴿وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً﴾
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku.” (TQS an-Nur [24]: 55)

Friday, November 18, 2016

Menanamkan Adab Berbicara Kepada Anak

Di antara perkara yang cukup merepotkan orangtua dari perilaku anak-anaknya adalah kebiasaan buruk dalam berbicara. Padahal berbicara adalah aktivitas yang paling banyak dilakukan manusia. Berbicara pula yang pertama-tama dilakukan bayi saat baru lahir, melalui tangisannya. Betapa bahagia sang ibu tatkala mendengar kata pertama yang diucapkan buah hatinya. Selanjutnya, seiring perjalanan waktu, sang anak pun mulai tumbuh, berkembang dan menyerap berbagai informasi yang diterimanya. Saat itulah sang anak mulai banyak mengatakan segala sesuatu yang pernah ia dengar. Sayang, tak jarang kebahagiaan ibu harus tergantikan oleh rasa prihatin terutama saat sang buah hati mulai berbicara tanpa adab, sopan santun, bahkan bertentangan dengan syariah.

Rasa prihatin kian mendalam bila ternyata meski anak sudah mulai menginjak usia balig, adab berbicara justru semakin ditinggalkan. Tak jarang ditemui mereka berani membantah nasihat orangtua atau guru, makin pintar berbohong, tak merasa berdosa saat mencaci atau mengolok-olok temannya dan berani mengungkapkan aib temannya. Bahkan mereka tak ragu mengucapkan kata-kata kotor, kasar, sumpah serapah, atau menisbatkan pada sesuatu yang tak layak bagi manusia.

Mengapa mereka bisa tumbuh menjadi seperti itu? Inilah sebagian permasalahan yang dialami orangtua. Kelihatannya sepele, namun sebenarnya sangat berat, karena persoalan lisan (perkataan) bisa berimplikasi surga atau neraka. Karena itu, orangtua seharusnya memiliki kepekaan mendalam dan ilmu yang mumpuni dalam mengarahkan buah hatinya agar amanah yang Allah berikan itu bisa menjadi penuntun orangtuanya menuju surga, bukan malah menghalanginya dari tempat termulia itu.

Bagian dari Akhlak Islam

Betapa agung Islam yang mengatur aspek akhlak. Sebagai bagian yang tak bisa dilepaskan dari bangunan Islam, pengaturan akhlak dalam Islam memiliki nilai untuk memberikan keunggulan atau keluhuran bagi yang melaksanakannya. Syariah Islam telah memerintahkan kaum Muslim untuk menghiasi setiap perilakunya dengan akhlak mulia, baik dalam beribadah, bermuamalah dengan orang lain maupun dalam perilaku yang sifatnya pribadi sekalipun. Sebaliknya, syariah telah melarang kaum Muslim dari akhlak tercela. Abdullah bin Amr ra. berkata bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya.” (Mutaffaq ‘alaih).
Di antara akhlak Islam yang diperintahkan Allah SWT adalah adab berbicara. Bahkan Rasulullah saw. pernah ditanya tentang perkara yang paling banyak menjadi penyebab masuknya manusia ke neraka, lalu beliau bersabda, “Perkara itu adalah mulut dan kemaluan.” (HR at-Tirmidzi, Ibnu Hibban, al-Bukhari, Ibnu Majah, Ahmad dan al-Hakim).
Rasulullah saw. adalah orang yang paling baik akhlaknya. Dalam berbicara beliau memang selalu dibimbing wahyu. Namun, sebagai suri teladan bagi seluruh manusia, perilaku beliau adalah contoh nyata bagi setiap Muslim.

Cara Menanamkan Adab Bicara pada Anak

Menanamkan adab berbicara harus dimulai sedini mungkin, karena berkait dengan kebiasaan. Sebaliknya, membiarkan kebiasaan buruk itu ada pada anak-anak akan menjadi sebuah karakter yang sulit diubah. Berikut tips umum untuk menanamkan adab bicara pada anak.

Pertama: tanamkan akidah yang kuat. Akidah yang kokoh akan menanamkan keyakinan bahwa sebagai hamba Allah kita wajib mengikuti semua aturan-Nya. Salah satu aturan tersebut adalah akhlak dalam berbicara (menjaga lisan). Melalui pendekatan ini, akan tertanam sikap keikhlasan melaksanakan akhlak tersebut semata-mata karena Allah SWT. Sedini mungkin anak harus mulai belajar melaksanakan kebaikan dalam berbicara, bukan untuk mengharapkan imbalan materi, atau pujian orang lain. Sikap ini juga akan memberi imunitas yang tinggi manakala ia terancam oleh lingkungan yang kurang baik.

Kedua: ajarkan keteladan Rasulullah saw. dalam berbicara. Beberapa contoh keteladanan Rasul di antaranya: selalu menyatakan kebenaran; tidak berdusta; jujur dalam perkataan; berbicara dengan lemah lembut, apalagi kepada orangtua; tidak banyak bicara, dsb. Semuanya menunjukkan betapa berharganya nilai berbicara itu.

Ketiga: jangan bosan memberi keteladanan. Anak akan meniru kebiasaan berbicara lingkungannya. Oleh karena itu, sebaiknya orangtua dan seluruh penghuni rumah menjaga lisannya. Keteladanan juga akan memberikan lingkungan yang baik bagi anak sehingga anak akan lebih mudah menemukan pola kebiasaan berbicara yang baik.

Keempat: biasakan mengucapkan kalimat thayyibah. Dengan kebiasaan ini, anak tidak punya kesempatan untuk mengatakan kata-kata kotor dan sia-sia. Di antara kalimat thayyibah yang biasa diajarkan, misalnya, kalimat bismillah untuk memulai setiap perbuatan baik, astaghfirullah bila anak melakukan kesalahan, subhanallah bila melihat pemandangan yang bagus, masya Allah jika mendapatkan sesuatu yang menakjubkan, inna lillahi jika mendapatkan musibah dan sebagainya. Membiasakan hal ini kepada anak sekaligus juga untuk menghindari kebiasaan latah yang sia-sia. Tanamkan pula bahwa mengatakan kalimah thayyibah jauh lebih baik dan berpahala dibandingkan kata-kata sumpah serapah seperti gila!, busyet!, monyet!, dasar bodoh!, dsb. Selain kalimat thayyibah, biasakanlah sejak kecil anak mengungkapkan kata-kata sopan dalam berinteraksi; misalnya terimakasih atau jazakallah, maaf, tolong, permisi, dan sejenisnya.

Kelima: jauhkan anak dari lingkungan yang tidak baik. Tidak diterapkanya sistem Islam memang memaksa keluarga Muslim untuk ekstra hati-hati menjaga buah hatinya. Meski di rumah sudah terbentuk kebiasaan berbicara yang baik, di luar rumah belum tentu. Padahal anak-anak secara alami juga membutuhkan ‘dunia luar’ untuk belajar dan bersosialisasi. Oleh karena itu, orangtua, khususnya ibu, harus bisa mengarahkan dengan siapa sebaiknya anak kita bermain. Jauhkan anak dari berteman dekat dengan anak-anak yang punya kebiasaan berbicara yang buruk. Berikanlah penjelasan yang bijak kepada anak sehingga anak tidak protes mengapa harus memilih-milih teman.

Orangtua juga harus selektif memilihkan program tayangan media. Jangan biarkan anak-anak menonton film orang dewasa apalagi beradegan kekerasan dan sering melontarkan kata-kata kasar. Sebaliknya, berikan tontonan edukatif yang merangsang anak melakukan kebiasaan berbicara yang baik. Jika terpaksa si anak kedapatan mendengar kata-kata kotor dari media, maka tugas orangtua adalah menjelaskan hakikat kata-kata kotor tersebut dan mengajaknya untuk menjauhinya.

Keenam: bijak dalam memberi peringatan atau nasihat. Bila anak mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan syariah, maka orangtua berkewajiban menasihatinya. Selayaknya orangtua bersikap bijak dengan menghindari olok-olok saat menasihati. Selain kata-kata itu bisa menjadi doa bagi anak, sebenarnya pada saat itu orangtua tengah mengajarkan jenis perkataan buruk kepada anaknya. Nasihat yang benar seharusnya juga disertai dengan penjelasan dalil syariah, terutama bagi anak yang sudah mulai besar. Ini penting untuk memunculkan sikap bersalah karena sudah melanggar ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Diharapkan anak tidak mengulangi-nya di lain waktu.

Ketujuh: menciptakan lingkungan sekitar rumah yang selalu menjaga lisan. Di antaranya adalah dengan tidak membiarkan anak tetangga yang mempunyai kebiasaan berkata buruk hingga mereka meninggalkan kebiasaannya. Kesalahan yang sering terjadi di masyarakat saat ini adalah menyerahkan pendidikan akhlak anak tetangga kepada ibunya sendiri. Padahal jika keburukan nyata-nyata ada di depan mata, maka amar makruf nahi mungkar kepada anak tetangga tentu menjadi kewajiban kita. Hanya saja, harus dicari metode yang baik agar tidak menyulut konflik antartetangga. Inilah yang dimaksud kontrol sosial yang harus ada untuk menjaga pelaksanaan syariah Islam.

Penutup

Sesungguhnya anak dapat memiliki adab bicara sesuai syariah bila mendapat bimbingan yang mumpuni dari orangtuanya. Meski tidak mudah, semua itu dapat tewujud dengan kesungguhan dan tanggung jawab yang besar dari orangtua.
Selain itu, sebagaimana kita ketahui, buruknya kebiasaan berbicara pada anak tidak lepas dari kesalahan pola asuh orangtua, lingkungan yang tidak islami, juga sistem pendidikan yang kurang menekankan pelaksanaan syariah secara kaffah, termasuk dalam perkara akhlak. Oleh karena itu, upaya penanaman adab berbicara pada anak juga harus dibarengi dengan upaya memperjuangkan syariah dan Khilafah. Dengan demikian, upaya orangtua mengemban amanah pendidikan anaknya akan selangkah lebih mudah. WalLahu a’lam bi ash-shawab. []



copas from: copas from hizbut-tahrir.or.id